Memanah Burung Rajawali (Sia Tiauw Eng Hiong) Seri 237

Yauw Kee berdiam, tapi hatinya berdenyutan. Hebat kata-katanya Oey Yok Su ini. Ia tidak tahu, apa yang si sesat ini hendak perbuat atas dirinya….

"Kau omonglah terus terang kepadaku," berkata pula Oey Yok Su, "Benar bukan kau hendak menikah sama cucu muridku ini? aku paling sukai bocah yang bersemangat
dan polos dan jujur! kau lihat imam cilik tadi, ia mencaci aku dibelakangku. Coba di depanku dia takut mencaci lebih jauh, coba dia justru bertekuk lutut
memohon ampun, kau lihat, aku bunuh padanya atau tidak! Hm! Di saat yang sangat berbahaya kau membantu imam cilik itu, kau bersemangat, maka itu tepatlah
kau dipasangi sama cucu muridkun ini! Nah, kau jawablah!"

Yauw Kee girang bukan kepalang. Memang sangat ingin ia menikah sama Koan Eng. Akan tetapi cara bagaimana ia dapat membuka mulut dalam urusan yang mesti
direcoki orang tua mereka? Kepada ayah ibunya sendiri ia malu untuk menjelaskannya, apa pula kepada orang asing ini, yang ia baru pertama kali menemuinya?
Pula di situ Koan Eng ada beserta! Maka ia tetap berdiri diam, wajahnya tetap merah dadu…

Oey Yok Su mengawasi Liok Koan Eng. Juga pemuda itu, cucu muridnya, berdiam sambil tunduk. Tiba-tiba ia ingat pada putrinya. Maka ia menghela napas.

"Jikalau dihendaki kamu berdua, suka aku merecoki jodoh kamu," katanya perlahan. "Memang di dalam hal perjodohan, orang tua juga tiak dapat memaksanya…."

Si Sesat dari Timur ini ingat kejadian kepada putrinya. Coba ia meluluskan anak darahnya itu menikah dengan Kwee Ceng, tidak nanti anak itu mati mengenaskan
di dasar laut. Karena ini, ia menjadi uring-uringan.

"Koan Eng!" katanya tiba-tiba nyaring. "Kau jawablah terus terang, sebenarnya kau menghendaki atau tidak dia ini menjadi istrimu?!"

Pemuda she Liok itu kaget hingga ia mencelat.

"Cauwsuya," sahutnya cepat, gugup, "Aku hanya khawatir aku tidak setimpal dengan ini…"

"Tepat, cocok!" berseru Oey Yok Su. "Kaulah cuci muridku, sekalipun putri raja, tentu dia tepat, dia setimpal denganmu!"

"Ya, cucu muridmu suka," Koan Eng menjawab dengan cepat. Ia mengerti kalau ia tidak omong polos dan terus terang, ia bisa celaka di tangan kakek guru yang
tabiatnya aneh ini.

Kalau tadi ia beroman beringis, sekarang Oey Yok Su tersenyum.

"Bagus!" serunya. "Sekarang kau, nona?" ia terus tanya nona Thia.

Bukan main girangnya yauw Kee, manis ia mendengar suaranya Koan Eng. Akan tetapi ia masih menunduki kepala.

"Tentang hal ini haruslah ayahku yang memutuskannya…" sahutnya sesaat kemudian.

"Ha, apakah itu segala titah orang tua, segala perkataan comblang?" kata Oey Yok Su keras. "Segala itu ialah angin busuknya anjing! Sekarang ini akulah
yang hendak mengambil keputusan! Jikalau ayahmu tidak mupakat, suruh dia berurusan denganku!"

Yauw Kee berdiam.

"Kalau begitu, terang kau tidak suka!" berkata Oey Yok Su. "Kau ada merdeka! Kita harus omong terus terang, aku Oey Lao Shia, aku larang orang menyesal
kemudian!"

Yauw Kee tersenyum.

"Ayahku cuma pandai berhitung dan menulis, dia tidak mengerti ilmu silat," katanya, menjelaskan.

Oey Yok Su heran, melengak.

"Biarlah mengadu menghitung dan menulis pun boleh!" katanya kemudian. "Lekas kau bilang, kau suka atau tidak menikah dengan cucu muridku ini?"

Nona Thia melirik Koan Eng, roman siapa gelisah. Di dalam hatinya ia kata: "Ayahku paling sayang padaku, asal kau minta orang datang melamar aku, dia tentu
akan menerimanya. Kenapa kau begini bergelisah?"

Oey Yok Su mengawasi cucu muridnya.

"Koan Eng, mari turut aku mencari Kanglam Liok Koay!" katanya nyaring. "Lain kali kalau kau dan nona ini bicara pula, sepatah kata saja, akan aku kuntungi
lidah kamu!"

Koan Eng kaget bukan main. Ia tahu benar, perkataannya si kakek guru tentu bakal diwujudkan. Maka lekas-lekas ia menghampirkan Yauw Kee, kepada siapa ia
menjura seraya berkata: "Nona Thia, aku Liok Koan Eng, kepandaian ilmu silatku rendah sekali, aku pun tidak terpelajar, sebenarnya tidak setimpal aku denganmu,
akan tetapi hari ini kita telah bertemu, itu tandanya kita berjodoh…"

"Jangan terlalu merendah, kongcu," sahut Yauw Kee perlahan, "Aku…aku bukannya…."

Koan Eng lekas memotong. Ia jadi ingat tadi si nona bicara dari hal mengangguk kepala untuk menggantikan jawaban.

"Nona," demikian katanya. "Jikalau kau mencela aku si orang she Liok, kau goyanglah kepalamu…"

Di mulut Koan Eng mengatakan demikian, hatinya sebenarnya goncang keras. Ia menatap si nona, ia khawatir nona itu benar-benar menggeleng kepala…

Sekian lama, Yauw Kee berdiam saja. Di atas dari kepalanya, di bawah sampai kakinya, dia tidak bergerak sedikit juga.

Bukan main girangnya Koan Eng.

"Nona!" ia berseru, "Kalau kau setuju, kau menerima baik, sukalah kau mengangguk!"

Tapi, nona Thia itu tetap tidak bergerak.

menampak itu, Koan Eng bergelisah bukan main.

Oey Yok Sun sendiri menjadi tidak sabaran.

"Menggeleng kepala tidak, mengangguk pun tidak, habis bagaimana?!" katanya.

Yauw Kee tunduk, ia bersenyum ketika ia berkata, "Tidak menggeleng kepala itu berarti mengangguk…"

Mau tidak mau, Oey Yok Su tertawa berkakakan.

"Hebat Ong Tiong Yang, dia menerima ini macam cucu murid! Sungguh lucu!" serunya. "Bagus, bagus! Sekarang juga aku akan menikahkan kamu!"

Koan Eng dan Yauw Kee terkejut. Keduanya lantas mengawasi orang tua ini, mulut mereka bungkam.

"Mana itu nona tolol?" kemudian Oey Yok Su menanya. "Hendak aku tanya dia, siapakah gurunya."

Ketiganya menoleh ke sekitarnya, Sa Kouw tidak ada di antara mereka. Entah kapannya si tolol menghilang selagi orang berbicara.

"Sudah, tidak usah repot mencari dia," kata Oey Yok Su kemudian, "Koan Eng, sekarang hayolah kau dan nona Thia sama-sama menghormati langit dan bumi, untuk
menglangsungkan pernikahan kamu."

"Cauwsuya," berkata Koan Eng. "Kau menyayang cucu muridmu ini, untuk itu walaupun tubuhku hancur lebur, sukar aku membalas budimu, akan tetapi dengan aku
menikah di sini, nampaknya ini terlalu tergesa-gesa…"

"Hus!" membentak Tong Shia. "Kamu murid Tho Hoa To, apakah kau juga hendak mengukuhi segala aturan umum? Mari, mari, berdirilah berendeng dan memberi hormatlah
ke luar kepada langit!"

Berpengaruh sekali suaranya pemilik dari pulau Tho Hoa To ini. Sampai di situ, Yauw Kee dan Koan Eng bertindak satu pada lain, untuk berdiri berendeng,
untuk terus menjalankan kehormatan.

"Sekarang menghadap ke dalam, menghormati bumi!" Oey Yok Su berkata pula, "Nah, kau menghormatilah couwsu kamu! Bagus, bagus, sungguh aku girang! Sekarang
suami istri saling memberi hormat!"

Demikian KoanEng dan Yuaw Kee seperti main sandiwara di bawah pimpinan Tong Shia, selama mana Oey Yong bersama Kwee Ceng terus mengikuti dari kamar rahasia.
Mereka heran dan lucu atas sepak terjangnya orang tua ini.

"Bagus!" terdengar pula suaranya Oey Yok Su. "Sekarang hendak aku menghadiahkan serupa barang kepada kamu suami-istri muda. Kamu lihat!"

Seketika itu juga, di dalam ruangan ini terdengar suara angin menderu-deru, seumpama kata, tembok bergoyang-goyang…

Oey Yong tidak mengintai tetapi ia tahu, ayahnya tengah menjalankan ilmu silat yang dinamakan Kong-piauw-kun atau Angin Ngamuk.

Sekira semakanan the, angin berhenti menderu.

"Kamu lihat, sekarang kamu turuti, untuk berlatih," berkata Oey Yok Su. "Mungkin kamu tidak dapat menangkap seluruh sarinya ilmu silat ini akan tetapi
setelah menyakinkannya, meskipun cuma kulitnya saja, bila kemudian kamu bertemu pula orang sebangsa si orang she Hauw tadi, tak usah kau takut lagi. Koan
Eng, pergi kau cari sepasang lilin, malam ini kamu boleh merayakan pernikahan kamu!"

Koan Eng melengak.

"Cauwsu," katanya tertahan.

"Apa? Habis menghormati langit-bumi, apakah bukannya merayakan pernikahan di antara lilin di dalam kamar?" tanya kakek guru ini. "Kamu berdua ada orang-orang
yang menyakinkan ilmu silat, mustahilkah untuk kamu masih dibutuhkan segala kamar yang dirias indah dan gubuk reot tak cukup?"

Koan Eng terdesak. Tetapi diam-diam ia bergirang. Ia lantas pergi untuk membeli lilin sekalian membeli juga arak putih dan seekor ayam, bersama-sama Yauw
Kee ia pergi ke dapur untuk mematangi itu, setelah mana mereka melayani sang kakek guru bersantap.

Sejak itu Oey Yok Su tidak banyak omong lagi, bahkan ia melihat ke langit, otaknya memikirkan anak daranya.

Oey Yong bersusah hati, beberapa kali hendak ia memanggil ayahnya itu, saban-saban ia membatalkannya. Ia khawatir ia nanti mengganggu lukanya Kwee Ceng.
Pernah ia mengulur tangan ke pintu, lekas ia menariknya pulang.

Yuaw Kee dan Koan Eng beberapa kali melirik Tong Shia, lalu mereka saling mengawasi. Mereka juga membungkam, tidak ada yang berani membuka mulut.

Auwyang Kongcu rebah di atas rumput, ia merasa sangat lapar, tetapi ia menguati hatinya, untuk tak bersuara, tak bergerak. Maka itu ketika itu, di dalam
tiga kamar, keenam orang itu sama-sama rapat mulutnya. Demikian cuca gelap.

Dengan mulai gelapnya sang jagat, hati Yauw Kee berdebaran.

"Ah, kenapa si tolol itu masih belum kembali?" berkata Oey Yok Su. "Kawanan jahanam itu tentulah tak berani mengganggu dia." Ia menoleh pada Koan Eng.
Ia menanya. "Malam ini malam pengantin, mengapa kau tidak memasang lilin?"

"Ya," menyahut Koan Eng cepat dan ia menyalakan api menyulut lilin. Maka itu di antar terangnya api ia dapat melihat wajahnya nona Thia dengan rambutnya
yang bagus dan pipinya yang putih. Di luar rumah terdengar suara angin perlahan, dari memainnya daun-daun bambu.

Oey Yok Su menngangkat sebuah bangku, ia lintai itu di depan pintu, lants di situ ia rebahkan dirinya. Tidak lama, dari hidungnya mulai terdengar suara
menggeros perlahan, suatu tanda ia sudah tidur pulas.

Yuaw Kee dan Koan Eng masih duduk tak bergeming.

Sang tempo berjalan terus sampai sepasang lilin padam, habis manjadi cair beku dan sumbunya menjadi abu, hingga ruangan menadi gelap petang. Setelah ini
mereka berbicara, seperti berbisik-bisik hingga Oey Yong yang memasang kuping, tidak dapat menangkap pembicaraan mereka itu.

Nona Oey berhenti memasang kuping tatkala merasakan tubuh Kwee Ceng bergerak secara tiba-tiba, napasnya seperti memburu. Ia mengerti, itulah saat genting
dari latihan mereka. Maka ia memusatkan perhatiannya, ia mengempos tenaga dalamnya, untuk menunjang kawan itu. Ia menanti sampai si anak muda tenang pula,
baru ia mengintai keluar.

Sekarang ini mulai tertampak sinar rembulan, yang molos masuk dari jendela butut. Dengan begitu kelihatan juga Koan Eng dan nona Thia duduk berbareng.
Mereka duduk diatas sebuah bangku.

"Tahukah kau hari ini hari apa?" kemudian terdengar si nona Thia, suaranya perlahan.

"Inilah hari baik dari kita berdua," menyahut Koan Eng.

"Itulah tak usah disebutkan lagi," kata si nona. "Hari ini bulan tujuh tanggal dua - hari ini ialah hari lahir aku."

Koan girang.

"Oh, sungguh kebetulan!" katanya. "Tidak ada hari sebaik hari ini!"

Yauw Kee mengulur tangannya menutup mulut orang.

"Sst, perlahan," ia memberi ingat. "Kau lupa daratan, eh?"

Hampir Oey Yong tertawa mendengar pembicaraan mereka itu. Justru itu ia pun bagaikan sadar.

"Hari ini tanggal dua, dan engko Ceng baru sembuh tanggal tujuh," demikian ia ingat. "Rapat partai Pengemis di kota Gakyang bakal dilakukan tanggal limabelas.
Dalam tempo delapan hari, mana dapat kita sampai di sana?"

Nona ini tengah berpikir ketika kupingnya mendengar siulan panjang di luar rumah makan, disusul tertawa nyaring yang seperti menggetarkan genteng rumah
makan itu. Ia mengenali suaranya Ciu Pek Thong.

"Hai, tua bangka berbisa bangkotan!" terdengar pula suaranya si orang tua berandalan itu. "Dari Lim-an kau mengubar ke Kee-hin, dari Kee-hin kau mengejar
balik ke Lim-an, sudah satu hari satu malam kau mengejarnya, sampai diakhirnya, kau masih tak dapat menyandak Loo Boan Tong! Sekarang ini sudah ada keputusannya
tentang kepandaian kita berdua, apalagi hendak kau bilang?"

Oey Yong terkejut.

"Dari Lim-an ke Kee-hin toh perjalanan limaratus lie lebih?" pikirnya. "Ah, bagaimana cepat larinya mereka berdua?"

Itu waktu terdengar suaranya Auwyang Hong: "Meski juga kau lari ke ujung langit, akan aku kejar kau sampai di sana!"

Ciu Pek Thong tertawa terbahak.

"Kalau begitu, biarlah kita jangan gegares jangan tidur!" dia berkata nyaring.

"Biar kita terus kejar-kejaran untuk mendapat tahu, siapa yang larinya paling kencang, siapa yang paling ulet. Kau berani atau tidak?!"

"Baik!" menyambut Auwyang Hong. "Mari kita lihat siapa yang akan lebih dulu mampus kecapaian!"

Nah, bagaimanakah kisah selanjutnya?

Dapatkah Auwyang Hong mengejar Ciu Pek Thong?

Bacalah [Seri 238 Episode Ajalnya Auwyang Kongcu]

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
Masukan kode tertera untuk memastikan keamanan situs kami.

Copyright © Kartunet Group Indonesia January 19th, 2006 - 2010 All Rights Reserved
Web Design