"Hm!" terdengar suaranya Oey Yok Su, yang tahu-tahu tangannya sudah mencekuk si orang she Hauw itu, tubuh siapa diangkat tinggi-tinggi, terus dengan mendadak,
tangannya menyambar lengan kiri Thong Thay, untuk ditarik, menyusul mana, orang galak ini menjerit keras, sebab sebelah tangannya itu kena dipatahkan.
Habis itu, tubuh korban ini lantas dilemparkan, dia sendirinya terus dongak memandang langit, sikapnya acuh tak acuh……..
Thong Hay roboh setengah mati, sakitnya bukan main. Tangannya yang patah itu mengucurkan darah tak hentinya.
Semua orang kaget, hati mereka ciut.
Kemudian Oey Yok Su menggeraki kepalanya, dengan matanya perlahan-lahan ia menyapu muka semua orang.
See Thong Thian dan Pheng Lian Houw semua, semua sebangsa iblis, merasakan tubuh mereka menggigil sendirinya. Bukan main kerennya sinar mata orang ini!
Bulu roma mereka pada bangun ssendiri.
"Kamu mao molos atau tidak?" tanya Oey Yok Su bengis karena orang pada tetap diam saja.
Tidak ada seorang juga yang berani banyak mulut, tidak ada yang ebrani menerjang atau membangkang, bahkan Pheng Lian Houw, dengan kepala tunduk, sudah
lantas molos mendahului yang lain-lain!
See Thong Thian melepaskan In Cie Peng dan Liok Koan Eng, dengan menolong adik seperguruannya, ia molos menyusul Pheng Lian Houw, diturut oleh Wanyen Lieh
bersama Yo Kang. Yang paling belakang molos adalah Nio Cu Ong bersama Leng Tie Siangjin. Sekeluarnya dari pintu rumah makan, mereka melekaskan tindakan
mereka, bahkan tidak berani mereka menoleh ke belakang.
Oey Yok Su tertawa sambil melengak.
"Koan Eng dan kau nona, diam kamu!" ia berkata.
Koan segera mengenali kakek gurunya itu, akan tetapi akan orang mengenakan topeng dan menduga kakek guru ini sengaja tidak hendak memperlihatkan diri,
ia tidak berani memanggil, ia cuma bertekuk lutut mengasih hormat dengan mengangguk empat kali.
Menyaksikan orang demikian lihay, In Cie Peng mennduga orang ini bukan sembarang orang, ia lantas memberikan hormatnya seraya memperkenalkan diri sambil
menyebut nama gurunya, Tiang Cun Cu dari Coan Cin Kauw.
"Semua orang telah mengangkat kaki!" berkata Oey Yok Su nyaring. "Aku pun tidak menahan kau, perlu apa kau masih berdiam di sini? Apakah kau sudah bosan
hidup?"
Cie Peng melengak. Inilah perlakuan yang ia tidak menyangkanya.
"Teecu ialah muridnya Coan Cin Kauw, bukannya orang jahat," ia memberi keterangan.
"Habis kalau Coan Cin Kauw, bagaimana?!" tanya Oey Yok Su sambil tangannya diulur ke meja di mana ada sepotong kayu, yang mana ia ayunkan ke arah Cie Peng.
Nampaknya enteng potongan kayu itu dan melayang. In Cie Peng mengangkat kebutannya untuk menangkis. Akan tetapi, ketika keduanya bentrok, muridnya Khu
Cie Kee ini terkejut. Ia merasakan serangan yang keras luar biasa, kebutannya itu kena tertolak sampai ujungnya mengenai mulutnya hingga ia merasakan sakit
sekali dan mulutnya itu seperti tambah entah barang apa. Ketika ia telah memuntahkannya, nyatalah ada beberapa buah giginya yang copot serentak. Ia menjadi
kaget dan bungkam. Sungguh hebat!
"Akulah Oey Yok Su atah Hek Yok Su!" kata Tong Shia dingin. "Kamu kaum Coan Cin Kauw, kamu hendak memandang bagaimana kepadaku?"
Mendengar itu, In Cie Peng kaget bukan main, hatinya berdebaran.
Yauw Kee semenjak tadi diam saja menyaksikan tingkah pola orang, turut terkejut, hatinya kebat-kebit.
Koan Eng turut berkhawatir, di dalam hatinya ia kata, "Tentulah kakek guruku ini dengar pembicaraanku dengan ini tosu muda. Kalau dia pun mendengar kata-kataku
kepada malaikat dapur barusan, entah dia bakal menghukum bagaimana kepadaku…"
In Cie Peng memegang pipinya.
"Kaulah pemimpin suatu partai persilatan, mengapa perbuatanmu begini cupat?" kemudian Cie Peng menegur si Sesat dari Timur itu. "Kanglam Liok Koay adalah
orang-orang gagah yang berhati mulia, mengapa kau mendesak mereka demikian rupa? Mengapakah? Jikalau bukan guruku yang memberikan kabar, bukankah mereka
semua bakal bercelaka di tanganmu?"
Oey Yok Su menjadi gusar.
"Pantas tak ketemu aku cari mereka di mana-mana, kiranya ada orang bangsa campuran yang emngadu biru di antara kita!" katanya nyaring.
Cie Peng menjadi berani, ia berjingkrak.
"Jikalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah!" ia menantang. "Aku tidak takut!"
Oey Yok Su tertawa dingin.
"Bukankah kau telah mencaci aku dibelakangku?" katanya.
Imam muda itu menjadi nekat.
"Di depanmu pun aku berani mencaci kau!" katanya sengit. "Kaulah si setan alas, si siluman!"
Koan Eng berkecil hati mendengar keberanian Cie Peng itu. Semenjak ia menjadi jago, Oey Yok Su ditakuti semua orang, dari kalangan Hitam dan Putih, tidak
pernah ada orang yang berani berlaku kurang ajar terhadapnya, maka Cie Peng ini adalah orang yang pertama.
"Hebat! Ini imam cilik bakal tak ketolongan jiwanya…" ia mengeluh.
Tetapi anehnya, bukannya marah, Oey Yok Su justru tertawa. Nyata si Sesat dari Timur ini menghargai dan menyayangi hati besar bocah ini. Ia ingat pada
masa mudanya, yang juga tidak kenal takut.
"Jikalau kau berani, kau makilah pula padaku!" katanya bengis sambil ia bertindak menghampirkan.
"Aku tidak takut, hendak aku memaki pula padamu!" jawab Cie Peng. "Kau iblis, kau siluman!"
"Hai, binatang bernyali besar, kau berani menghina kakek guruku!" membentak Koan Eng, yang lantas membacok. Tapi ia bukan hendak mencelakai, sebaliknya,
untuk melindungi. Karena ia mengerti baik sekali, kalau kakek gurunya yang turun tangan, celakalah imam muda ini. Ia pikir, bacokannya sendiri, ke arah
alis, tidak meminta jiwa orang. Ia harap perbuatannya ini nanti merendahkan kegusarannya kakek guru itu.
Cie Peng berkelit yang berlompat mundur dua tindak. Ia mendelik, kembali ia pentang mulutnya lebar-lebar.
"Imam kamu yang muda ini hari ini dia tak menghendaki hidup lebih lama pula!" katanya nyaring dan sengit, "Hendak aku mencaci kau!"
Koan Eng hendak membacok orang roboh, untuk menolongi jiwanya, maka tanpa membilang suatu apa, ia menyerang pula.
"Traang!" demikian satu suara nyaring. Sebab yauw Kee menalangi Cie Peng menangkis. Nona ini pun segera berkata nyaring: "Aku pun orang Coan Cin Kauw!
Jikalau kau hendak membunuhnya, nah bunuhlah kami berdua saudara seperguruan!"
Perbuatan nona Thia ini membuatnya Cie Peng terkejut dan kagum.
"Bagus, Thia Sumoy!" serunya.
Berdua mereka berdiri berendang, mata mereka memandang tajam kepada Oey Yok Su.
Sikap mereka ini membuatnya Koan Eng menghentikan sepak terjangnya.
Oey Yok Su mengawasi sepasang muda-mudi ini, ia tertawa terbahak.
"Bagus, kamu bersemangat!" katanya memuji. "Memang aku Oey Lao Shia, aku ada dari bangsa sesat, maka tepatlah kau memaki aku! Gurumu masih terhitung orang
di bawahan tingkat derajatku, dari itu, mana bisa aku melayani kamu bangsa sebawahanku? Nah, kau pergilah!"
Sambil berkata begitu, Oey Yok Su mengulurkan sebelah tangannya menjambak dada si imam muda, terus tangannya itu dikibaskan.
Cie Peng kena terjambak tanpa ia berdaya dan tahu-tahu tubuhnya sudaha melayang, terlempar ke luar. Ia kaget bukan main. Ia percaya bahwa ia bakal jatuh
terbanting keras. Kesudahannya ada diluar dugaannya. Ia jatuh dengan berdiri dengan kedua kakinya, ia seperti juga dipegangi Oey Yok Su dan diksaih turun
dengan perlahan-lahan!
Muridnya Tiang Cun Cu ini berdiri menjublak.
"Sungguh berbahaya.." katanya dalam hatinya. Sekarang ini biar nyalinya lebih besar pula, tidak nanti ia berani mencaci pula si Sesat dari Timur itu, kepandaian
siapa benar-benar luar biasa. Kemudian dengan pegangi pipinya yang bengkak-bengkak, ia memutar tubuhnya untuk ngeloyor pergi…
Yauw Kee memasuki pedangnya ke dalam sarungnya, ia pun membalik tubuhnya untuk berlalu.
"Perlahan dulu!" mencegah Oey Yok Su seraya ia mengangkat tangannya ke mukanya, untuk menyingkirkan topengnya. "Bukankah kau suka menikah dengannya untuk
menjadi istrinya? Benarkah?" Ia menanya seraya menunjuk ke Koan Eng.
Kaget nona Thia. Inilah ia tak sangka. Dengan sendirinya mukanya menjadi pucat dan kemudian berubah menjadi bersemu merah dadu…
"Imam cilik yang menjadi kakak seperguruanmu itu, memang tetap caciannya padaku," berkata pula Oey Yok Su. "Bukankah ia mengatakan aku iblis dan siluman?
Memang tocu dari Tho Hoa To, Tong Shia Oey Yok Su, siapakah orang kangouw yang tidak mengetahuinya? Seumurnya aku Oey Lao Shia, yang aku paling jemukan
ialah segala hal wales asih dan pribadi, segala peradatan dan aturan, dan yang paling aku bencikan yakni segala nabi atau rasul, segala kehormatan atau
kesucian diri! Semua itu adalah daya belaka untuk memperdayakan suami-istri tolol, dan manusia di kolong langit ini, turun menurun telah dibelesaki ke
dalam situ tanpa mereka sadari! Tidakkah itu sangat menyedihakn, sangat harus dikasihani dan lucu juga? Oey Yok Su tidak percaya semua itu! Orang mengatakan
Oey Yok Su sesat! Hm! Sebenarnya hatiku ada terlebih baik daripada segala nabi yang dipuja di dalam kuil!"
Nah, bagaimanakah kisah selanjutnya?
Bacalah [Seri 237]
Post new comment