Memanah Burung Rajawali (Sia Tiauw Eng Hiong) Seri 235

"Masuk!" ia memanggil.

Sa Kouw, demikian wanita itu, bertindak masuk sambil tertawa haha-hihi.

"Oh, begini banyak orang!" katanya seraya mengulur lidahnya.

Nio Cu Ong yang menjeritkan iblis, menjadi gusar sekali.

"Kau siapa?!" ia membentak sambil lompat maju, tangannya menyambar lengan orang. Ia menganggap orang adalah gadis desa yang tolol. Tapi ia ketemu batunya!

Sa Kouw tidak sudi tangannya dicekuk, ia kelit seraya berbalik membalas menyerang, maka "plok!" tanganna Cu Ong kena dihajar keraas, hingga ia merasakan
sakit. Tentu sekali, dia jadi gusar sekali.

"Ha, kau berlagak tolol!" ia berseru. Dia maju denagn dua tinjunya berbareng.

"Hahahaha!" mendadak si tolol tertawa seraya menuding kepala orang yang gundul licin.

Semua orang heran mendengar tertawa itu, Cu Ong tidak menjadi terkecuali, tapi mereka melengak tidak lama, atau si orang she Nio sudah mengirim satu tinjunya
- tinju yang kanan.

Sa Kouw menangkis, ia berhasil, akan tetapi tubuhnya terhuyung. Mengertilah ia yang ia bukan tandingannya lawan itu, maka tak ayal lagi, ia memutar tubuhnya
untuk lari pergi.

Cu Ong berlaku sebat, dengan satu loncatan ia sudah menghadang di depan si tolol itu, sikutnya dikerjakan, maka hidung si nona menjadi sasaran, hingga
ia kesakitan, dan matanya kabur. Lantas ia berteriak-teriak: "Adik yang makan semangka, lekas kau kelluar menolongi aku! Ada orang memukul aku!"

Oey Yong terkejut.

"Jikalau anak tolol ini tidak dibinasakan, dia bakal menjadi bahaya untuk kami," pikirnya. Tapi belum lagi ia mengambil keputusan atau tindakan, mendadak
ia mendengar satu suara "Hm!" perlahan, yang ia kenali dengan baik sekali.

"Ah, ayah datang!" katanya dalam hatinya, sedang hatinya berdebaran. Ia segera mengintai pula.

Benar-benar oey Yok Su muncul di situ dengan jubahnya yang panjang dan hujai warnanya, mukanya ditutup dengan topeng kulit manusia. Dia berdiri di ambang
pintu!

Tidak ada orang yang mengetahui kapan tibanya ini orang baru, tidak ada yang melihat datangnya, tidak ada yang mendengarnya, hingga mungkin ia baru tiba,
mungkin juga ia masuk lebih dulu ke dalam situ. Dia berdiri tak bergerak. Benar mukanya tidak bercaling atau bengis, tetapi kulitnya bukan kulit orang
hidup, hanya kulit mayat, maka siapa yang memandangnya, lekas-lekas ia melengos, tidak berani ia mengawasi terus.

"Nona, kau siapa?" Oey Yok Su kemudian menanya. Ia heran melihat gerak-gerik si nona, ia tahu orang bersilat dengan ilmu silatnya sendiri. "Siapa gurumu?
Mana gurumu?"

Sa Kouw menggeleng kepala. Ketika ia mengawasi mukanya Oey Yok Su, ia menjublak. Tapi cuma sebentar, lantas ia tertawa berkakakan dan menepuk-nepuk tangan.

Oey Yok Su mengerutkan keningnya, ia berpikir sejenak, lantas ia mengambil putusan nona ini pasti ada cucu muridnya, hanya entah dari muridnya yang mana.
Ia memang paling sayang sama muridnya, tidak sudi ia orang menghinakan muridnya itu. Buktinya Bwee Tiauw Hong, muridnya yang murtad tetapi tempo murid
itu dikalahkan oleh Kwee Ceng masih ia hendak melindungi. Apa pula Sa Kouw nona yang tolol dan polos ini.

"Eh, anak!" tegurnya. "Orang telah serang kau, mengapa kau tidak membalas menghajarnya?"

Ketika baru-baru ini Oey Yok Su pergi naik ke perahu mencari putrinya, ia tidak mengenakan topeng, tetapi kali ini lain, orang tidak segera mengenalinya,
kali ini setelah ia membuka mulutnya, lantaslah Wanyen Lieh bertiga Yo Kang dan Pheng Lian Houw lantas menjadi ciut nyalinya. Bahkan ia menduga-duga, jangan-jangan
adalah Oey Yok Su yang menyamar jadi hantu di dalam istana. Maka ia lantas memikir untuk tidak bertempur, hanya mencari ketika untuk mengulur langkah seribu.
Untuk ia, jiwanya paling penting, nama wangi dan malu adalah urusan lain…

"Aku tidak dapat menghajar dia," Sa Kouw menjawab.

"Siapa bilang kau tidak dapat menghajar dia?!" bentak Oey Yok Su. "Kau hajar cecongornya seperti tadi ia memukul hidungmu! Dia memukul kau satu kali, kau
membalas dia tiga kali lipat ganda!"

Sa Kouw tertawa.

"Bagus!" katanya. Dan ia menghampirkan Nio Cu Ong, tanpa memikir pula ia bukan tandingan jago itu. Ia kata, "Kau memukul hidungku satu kali, akan aku hajar
hiudngmu tiga kali!"

Dan ia mengangkat kepalannya, meninju hidung orang!

Nio Cu Ong tidak sudi mandah dihajar, ia angkat tangannya, untuk menangkis, atau tiba-tiba ia merasakan jalan darah kiok-tie-hiat di lengannya menjadi
mati sendirinya, hingga ia tak sanggup sekalipun untuk melonjorkan lengannya itu. Maka itu, "Buk!" kenalah hidungnya dihajar si nona tolol itu, hingga
ia kaget bahna sakitnya.

"Yang kedua!" berseru sa kouw tanpa mengasih hati.

Nio Cu Ong memasang kuda-kudanya, tangan kirinya digeraki. Ia hendak menggunai tipu silat Kim-na-hoat, Menangkap untuk membikin lengan orang terlepas dari
sambungannya. Tidak sudi ia terus-terusan kena dihajar. Hanya, belum lagi tangannya itu bentrok tangan si nona, ia merasakan jalan darahnya pek-jie-hoat
lemas sendirinya, hingga habislah tenagany, Dilain pihak, "Buk!" kembali hidungnya kena dihajar untuk kedua kalinya, bahkan kali ini hajarannya jauh lebih
hebat, sampai tubuhnya melengak ke belakang.

Selagi Nio Cu Ong kaget dan kesakitan dan heran, semua hadirin lainnya tak kurang herannya, kecuali Pheng Lian Houw seorang ahli senjata rahasia. Ia mendengarnya,
setiap kali Nio Cu Ong menggeraki tangan, untuk menangkis atau membalas, saban-saban ada suara halus berkesiar, maka itu ia menduga, tentulah Oey Yok Su
sudah menggunakan semcama senjata rahasia, mungkin sebangsa jarum, ia hanya tak dapat melihatnya, tak tahu kapannya senjata rahasia itu dipakai menyerang.
Tentu sekali ia tidak tahu Oey Yok Su sudah melepaskan jarum rahasia dari dalam tangan bajunya, jarum mana dapat menembusi tangan baju itu, untuk meleset
kepada sasarannya. Siapa dapat berkelit dari serangan semcam itu?"

"Yang ketiga!" terdengar suara pula Sa Kouw, nyaring.

Nio Cu Ong terkejut. Oleh karena tangannya tidak sudi mendengar kata, sedang ia tidak ingin merasakan pula bogem netah, lekas-lekas ia bertindak mundur,
untuk menghindarkan diri. Tapi, baru ia mengangkat kakinya itu, kaki kana atau betisnya, bagian jalan darah pek-hay-hiat, mati sendirinya. Ia kget tak
terkira. Itu artinya ia tak dapat berkelit. Ia menjadi sangat menyesal, maka tiba-tiba saja matanya menjadi merah, air matanya mengembang, untuk meluncur
keluar. Kalau sampai ia menangis, habis sudah nama besarnya, maka ia hendak menyusutnya. Celaka untuknya, tidak dapat ia menangangkat tangannya. Dari itu,
akhirnya bercucuranlah air matanya itu!

Sa Kouw tolol akan tetapi hatinya pemurah dan lemah, kapan ia melihat orang menangis, batal ia meninju, bahkan ia berkata nyaring. "Sudah, jangan kau menangis!
Tidak, aku tidak akan menghajar pula padamu…"

Hiburan ini tapinya begitu hebat daripada tinjuan yang ketiga itu. Nio Cu Ong menjadi terasa terlebih terhina pula. Begitu hebat mendongkolnya, mendadak
ia muntahkan darah hidup! Tapi ia segera mengangkat kepalanya, memandang Oey Yok Su.

"Tuan siapakah kau?" ia menanya. "Secara gelap kau melukai orang, apakah itu perbuatan satu enghiong, seorang gagah?"

Oey Yok Su tertawa dingin.

"Tepatkah orang semacam kau menanyakan namaku?" katanya dengan dingin mengejek, lalu dengan suara nyaring, ia memerintah: "Semua kamu menggelinding pergi
dari sini!"

Semua orang itu menjadi kaget berbareng lega hati. Mereka telah menyaksikan segala apa, walaupun mereka gagah, hati mereka toh ciut, jeri mereka terhadap
orang lihay tak dikenal ini. Untuk menyerang, mereka tak berani, untuk mengangkat kaki mereka malu, dari itu mereka diam saja, sampai tiba-tiba datang
seruan orang.

Pheng Lian Houw si licik adalah yang bergerak paling dulu, hendak ia berlalu. Baru dua tindak ia berjalan, atau mendadak orang menghadang di depan pintu!
Terpaksa ia menghentikan langkahnya, berdiri menjublak si situ.

"Setan alas!" berseru Oey Yok Su. "Telah aku melepaskan kamu, untuk kamu pergi, kenapa kamu berdiam saja? Apakah kamu ingin aku membunuh mampus pada kamu
semua?!"

Pheng Lian ouw ketakutan, ia mengerti bahaya.

"Locianpwee ini menitahkan kita pergi, marilah kita keluar!" ia mengajak kawan-kawannya. Tidak berani ia ngeloyor sendirian.

See Thong Thian panas hatinya. Ia menyingkirkan sumbatan kepada mulutnya.

"Minggir untukku!" ia berseru mendongkol. Ia pun maju ke depan Oey Yok Su, matanya bersinar merah saking gusarnya.

Oey Yok Su tidak mengambil mumat suara orang yang bengis itu. Bahkan dengan tawar ia berkata: "Tidak dapat kau meminta aku membuka jalan! Siapa yang menyayangi
jiwanya, lekas ia molos dari selangkanganku!"

Thong Thian semua saling mengawasi, muka mereka merah saking mendongkol. Saking gusar, mereka menjadi nekat. Mereka pun berpikir, "Walaupun kau sangat
lihay, dapatkah kau melawan kami?"

Maka itu Hauw Thong Hay sudah lantas berseru sambil berlompat maju, menubruk itu perintang jalan yang jumawa.

Nah, bagaimanakah kisah selanjutnya?

Bacalah [Seri 236]

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
Masukan kode tertera untuk memastikan keamanan situs kami.

Copyright © Kartunet Group Indonesia January 19th, 2006 - 2010 All Rights Reserved
Web Design