Memanah Burung Rajawali (Sia Tiauw Eng Hiong) Seri 234

Yauw Kee ingin minta orang jangan takabur, tetapi melihat wajah orang muram, ia membatalkan niatnya itu.

Bersama-sama mereka lantas kembali ke rumah makan.

"Aku hendak meminta diri," kata Koan Eng kepada dua orang itu. "Lain hari, kalau kamu lewat di Thay Ouw, harap kamu berdua sudi mampir di Kwie-in-chung
untuk singgah buat beberapa hari."

Yauw Kee tercengang. Berat rasanya untuk segera berpisah dengan pemuda itu.

In Cie Peng sendiri memutar tubuh menghadapi malaikat dapur, untuk berkata: "Touw Ongya, Coan Cin Cit Cu paling gemar mendamaikan segala persengketaan.
Urusan tak adil bagaimana juga dalam kalangan kangouw, asal murid-murid Coan Cin mengetahuinya, pasti mereka tak nanti berpeluk tangan saja tak mengurusnya!"

Koan Eng mengerti kata-kata itu ditujukan kepadanya, maka ia pun berkata: "Touw Ongya, semoga ongya dapat membereskan urusan ini dengan baik, dan hambamu
sangat bersyukur kepada sekalian budiman untuk kebaikannya sudi mengeluarkan tenaganya."

In Cie Peng pun berkata pula. "Touw Ongya, silahkan legakan hati. Coan Cin Cit Cu tersohor di kolong langit ini, asal mereka suka turun tangan, tidak ada
urusan yang tidak dapat diselesaikan."

Koan Eng melengak. Di dalam hatinya ia kata: "Kalau Coan Cin Cit Cu memaksakan perdamainan, mana kakek guruku puas?" Maka lekas-lekas ia berkata pula:
"Touw Ongya, ongya mengetahui sendiri kakek guru biasa bawa maunya sendirinya, dia tidak suka memperdulikan orang lain, kalau lain orang sudi bersahabat
dengannya, dia suka mendengarnya, tetapi bila orang bicara dari hal kepantasan, itulah yang ia paling sebal."

Cie Peng lantas mengasih dengar pula suaranya: "Haha, Touw Ongya! Coan Cin Cit Cu mana pernah jerih terhadap lain orang? Urusan ini memang tidak ada sangkutannya
sama pihak kami, guruku pun cuma menyuruh aku mengasih kabar saja kepada orang lain, tetapi kalau orang berani main gila terhadap Coan Cin Cit Cu, hm,
biar dia Oey Yok Su atak Hek Yok Su, nanti Coan Cin Kauw memperlihatkan dia apa yang bagus!"

Kata-kata Oey Yok Su dan Hek Yok Su itu berarti ejekan, karena disini "Oey" itu bukan diartikan she, hanya "oey - kuning" dan "hek - hitam"

Mendengar itu, Liok Koan Eng menjadi tidak senang. Maka ia pun lantas berkata: "Touw Ongya, apa yang barusan hambamu telah mengatakannya, harap dipandang
saja sebagai kata-kata ngelindur. Umpama kata ada orang tak melihat mata kepada kami, pasti kami tak sudi menerimanya!"

Mereka itu masing-masing bicara kepada malaikat dapur, diluar dugaan, kata-kata mereka menjadikan bentrokan satu pada lain. Yauw Kee menjadi serba salah,
mau ia datang sama tengah tetapi mereka itu sama-sama muda dan darahnya panas.

Begitulah In Cie Peng telah berkata pula: "Touw Ongya, ilmu silat Coan Cin Pay adalah ilimu silat sejati di kolong langit ini, ilmunya orang lain kaum
yang sesat, biar bagaimana luar biasa juga, tidak nanti dapat dibandingkannya!"

"Touw Ongya," berkata Koan Eng, "Hambamu juga telah lama mendengar tentang ilmu silat Coan Cin Pay itu, bahwa banyak orangnya yang lihay, akan tetapi di
antaranya tak mustahil tak ada si tukang ngobrol belaka!"

Bukan main gusarnya Cie Peng, tangannya segera menyampok. Maka gempurlah sebelah kepalanya patung malaikat dapur itu. Dia berseru: "Binatang yang baik,
kau berani mendamprat orang?!"

Koan Eng pun menyampok membikin gempur sebelah yang lain dari kepala malaikat dapur itu, sambil ia berseru: "Mana aku berani mendamprat kau? Aku hanya
mencaci manusia tak tahu diri, yang tak melihat orang!"

In Cie Peng telah menyaksikan kepandaian orang, ia berada di sebelah atas, ia menjadi tidak takut, maka ia tertawa dingin dan berkata: "Baiklah, mari kita
main-main, untuk melihat siapa sebenarnya yang tidak memandang orang!"

Koan Eng menginsyafi bahwa ia kalah kosen tetapi ia tidak senang yang pihaknya dpandang enteng, ia menjadi tengah menunggang harimau hingga tak dapat turun,
maka dengan tangan kanan menghunus golok, dengan tangan kirinya ia memberi hormat. Ia berkata: "Baiklah, siauwtee suka sekali menerima jurus-jurus yang
lihay dari Coan Cin Pay!"

Yauw Kee bertambah bingung. Beberapa kali ia hendak mencegah, saban-saban ia batal sendirinya, hingga cuma air matanya yang berlinang-linang. Ia tidak
mempunyai keberanian untuk maju di tengah antara mereka itu.

Cie Peng sudah lantas mengebut hudtimnya, ia bertindak maju. Mereka berdua sudah lantas bertempur.

Koan Eng tidak mengharapi kemenangan, ia lebih mengutamakan pembelaan diri. Ia mainkan sungguh-sungguh ilmu golok warisan Kouw Bok Taysu, ilmu golok Lo
Han Too-hoat.

In Cie Peng memandnag enteng kepada lawannya, ia lancang maju, maka kagetlah ia ketika hampir saja lengan kirinya kena terbacok. Karena ini barulah ia
berkaku waspada, kemudian barulah ia menang di angin.

Oey Yong dari tempat sembunyinya mendengar dan menyaksikan itu semua. Ia terus menonton. Ia mendongkol juga kepada In Cie Peng, yang berani mengatai ayahnya
yang dikatakan berilmu sesat.

"Kalau bukan engko Ceng lagi sakit, akan aku kasih rasa padanya!" katanya dalam hati. Tiba-tiba saja, ia menjerit, "Ah, celaka!"

Koan Eng membacok begitu hebat hingga ia kehilangan sasarannya. Golok itu terpancing hudtim Cie Peng, setelah mana orang she In ini menbalas menotok, dengan
jitu, hingga golok lawan terlepas dan jatuh, setelah mana dia mengebut terus ke muka orang seraya berkata jumawa: "Ingat baik-baik, inilah jurus lihay
dari Coan Cin Pay!"

Diantara bulu hudtim itu ada tercampur kawat halus, kalau muka Koan Eng kena terkebut, pasti wajahnya yang tampan bakal penuh baret dan berlumuran darah.

Koan Eng melihat bahaya, ia berkelit sambil tunduk.

Cie tak mau sudah, ia menyusul dengan kebutannya itu.

"In Suko!" Yauw Kee berseru. Kali ini si nona berlompat maju seraya menangkis dengan piasunya.

Ketika ini dipakai oleh Koan Eng untuk memungut goloknya.

"Bagus!" berseru Cie Peng, tertawa dingin. "Kau telah membantu orang luar, Thia Sumoy! Nah, kamu berdua, majulah bersama!"

"Apa katamu!" menegur Yauw Kee murka.

Cie Peng tidak menyahuti, ia hanya menyerang beruntun tiga kali, membuatnya si nona repot menangkis.

Koan Eng mendongkol, ia maju pula. Dengan begitu Cie Peng benar-benar dikerubuti berdua. Tapi Yauw Kee tidak mau bertempur dengan kakak seperguruannya
itu, ia lantas lompat mundur.

"Mari maju!" Cie Peng menantang adik seperguruannya itu. "Dia sendiri tidak dapat melawan aku. Dengan kau maju, tak usahlah sebentar kau membantui padanya!"

Oey Yong merasa lucu menyaksikan tiga orang itu, dari kawan, menjadi lawan, malah mereak jadi bertempur. Ia memikir, bagaimana urusan mereka itu dapat
diselesaikan. Justru itu ia mendengar satu suara di pintu dari terbukanya daun pintu, setelah mana terlihatlah masuknya rombongan Pheng Lian Houw yang
mengiringi Wanyen Lieh dan Yo Kang.

Mereka ini menanti sekian lama tanpa mendengar sesuatu, See Thong Thian jadi berkhawatir untuk saudara seperguruannya, dengan membesarkan nyali, ia masuk
untuk membuat penyeledikan, diwaktu mengintai, ia melihat Cie Peng tengah bertempur sama Koan Eng. Seorang diri ia tidak berani lancang masuk, maka ia
kembali untuk mengajak kawan-kawannya. Demikian mereka masuk dengan tiba-tiba.

In Cie Peng dan Koan Eng melihat datangnya banyak orang itu dengan sendirinya, mereka berhenti berkelahi, dengan lantas keduanya berlompat mundur. Belum
sempat mereka menjauhkan diri, sebat luar biasa, See tHong Thian menubruk mereka, akan menyambar masing-masing tangan mereka itu, Sedang Pheng Lian Houw
dengan cepat pergi menolongi Hauw Thony Hay dengan melepaskan belunggunya dan membebaskna totokannya.

Thong Hay susah bernapas, maka itu, tanpa menanti mengeluarkan sumbatannya itu, sambil mencoba berseru, ia menyerang Yauw Kee, tangannya menyerbu ke muka
si nona.

Nona Thia melihat serangan, ia dapat berkelit mendak.

Thong Hay mendongkol bukan main, mukanya merah. Kembali ia maju, kali ini dengan dua kepalan berbareng.

"Tahan!" Pheng Lian Houw berseru. "Mari kita menanya dulu!"

Thong Hay tidak dapat mendengar cegahan itu, karena kedua kupingnya pun disumpal.

Koan Eng dicekal keras oleh Thong Thian, separuh tubuhnya sampai tak bisa digeraki, akan tetapi menampak Thong Hay menyerang Yauw Kee seperti kesetanan,
entah darimana datangnya, ia berontak hingga terlepas, terus ia lompat kepada si orang she Hauw. Akan tetapi Lian Houw awas dan sebat, kakinya melayang,
karena mana, pemuda itu roboh terbanting, hingga batang lehernya kena dicekuk.

"Kau siapa?!" Lian Houw membentak. "Kemana perginya itu manusia yang menyaru jadi hantu?!"

Baru Lian ouw menutup mulutnya, atau mana daun pintu terdengar bersuara, terbuka dengan perlahan. Semua orang menoleh dengan lantas, akan tetapi mereka
tak melihat orang masuk. Tanpa merasa, hati mereka ciut sendirinya. Hanya sejenak, di ambang pintu tertampak seorang wnaita muda dengan rambut kusut awut-awutan,
mulanya kepalanya yang nongol.

Nio Cu Ong bersama Leng Tie Siangjin lompat mencelat.

"Celaka, iblis wanita!" mereka berseru, kaget.

Tapi Pheng Lian Houw bermata jeli, ia melihatnya orang bukan setan.

Nah, bagaimanakah kisah selanjutnya?

Bacalah [Seri 235]

Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

CAPTCHA
Masukan kode tertera untuk memastikan keamanan situs kami.

Copyright © Kartunet Group Indonesia January 19th, 2006 - 2010 All Rights Reserved
Web Design